Dua Siswa, Satu Kegagalan, Dua Reaksi Berbeda

Psikolog Albert Bandura pernah menggambarkan skenario yang mungkin akrab bagi siapa pun yang pernah mengajar: dua siswa dengan kemampuan setara sama-sama gagal di ujian pertama mereka. Satu siswa tidak patah semangat dan memutuskan belajar lebih giat. Satu lagi merasa kalah dan nyaris berhenti mencatat serta belajar untuk sisa semester.

Kedua siswa itu sebetulnya sama-sama mampu mengikuti kelas tersebut di awal tahun ajaran. Yang membedakan reaksi mereka bukan kemampuan, melainkan keyakinan tentang kemampuan mereka sendiri. Skenario inilah yang mendasari dua konsep psikologi paling berpengaruh soal keyakinan diri dalam belajar — self-efficacy dan growth mindset. Keduanya sering dianggap sama karena sama-sama bicara soal "percaya pada diri sendiri", padahal akar teorinya berbeda.

Apa Itu Self-Efficacy

Self-efficacy diperkenalkan Bandura pada 1977 sebagai bagian dari teori kognitif sosialnya. Definisinya: keyakinan seseorang terhadap kemampuannya saat ini untuk berhasil menyelesaikan tugas atau tantangan tertentu. Ini bukan soal apakah kemampuan bisa berkembang di masa depan — ini soal "apakah aku sanggup melakukan ini, sekarang, dengan kemampuan yang sudah kupunya?"

Bandura mengidentifikasi empat sumber utama yang membentuk self-efficacy seseorang: pengalaman keberhasilan langsung (yang paling berpengaruh), pengalaman melihat orang lain berhasil, dorongan verbal dari orang lain, dan kondisi fisik/emosional saat menghadapi tantangan. Semakin sering seseorang berhasil menuntaskan tugas yang menantang, semakin kuat self-efficacy-nya untuk tugas serupa di masa depan.

Apa Itu Growth Mindset

Growth mindset, yang dipopulerkan Carol Dweck, punya fokus berbeda: keyakinan bahwa kemampuan atau kecerdasan bisa berkembang seiring waktu lewat usaha, strategi, dan bimbingan yang tepat. Ini bukan soal "apakah aku sanggup sekarang", melainkan "apakah kemampuanku bisa bertambah kalau aku berusaha?"

Seperti dibahas di artikel kami sebelumnya, efek growth mindset terhadap prestasi belajar memang lebih kecil dan lebih bergantung konteks dibanding klaim populer yang beredar. Tapi sebagai konsep, ia tetap berguna untuk menjelaskan satu hal spesifik: bagaimana seseorang memandang potensi dirinya dalam jangka panjang.

Perbedaan Inti: Dua Pertanyaan yang Berbeda

Cara paling ringkas membedakan keduanya: self-efficacy menjawab pertanyaan "Bisakah aku?" — soal kapasitas saat ini untuk tugas spesifik. Growth mindset menjawab pertanyaan "Bisakah aku berkembang?" — soal potensi perubahan kemampuan dari waktu ke waktu.

Self-Efficacy

Bisakah Aku Sekarang?

  • Fokus: kapasitas saat ini untuk tugas spesifik
  • Sifat: sangat spesifik per domain/tugas
  • Dibentuk oleh: pengalaman keberhasilan langsung
  • Diciptakan oleh: Albert Bandura (1977)
Growth Mindset

Bisakah Aku Berkembang?

  • Fokus: potensi perubahan kemampuan dari waktu ke waktu
  • Sifat: keyakinan umum, meski ternyata juga bisa berbeda per bidang
  • Dibentuk oleh: cara memandang usaha dan kegagalan
  • Diciptakan oleh: Carol Dweck (2006)

Keduanya Saling Memengaruhi, Bukan Bersaing

Sebuah meta-analisis 2025 yang meninjau hubungan antara mindset, self-efficacy, dan self-esteem pada siswa maupun guru menemukan bahwa growth mindset punya hubungan sedang dengan self-efficacy dalam konteks akademik — cukup kuat untuk dibilang berkaitan, tapi tidak cukup kuat untuk dibilang konsep yang sama. Studi ini menegaskan apa yang sudah lama dicurigai psikolog: fixed dan growth mindset bukan dua ujung dari satu spektrum yang sama dengan self-efficacy, melainkan konstruk yang berbeda meski saling memengaruhi.

Cara paling mudah membayangkan hubungannya: growth mindset berperan sebagai "lapisan penerima" yang menentukan bagaimana seseorang merespons kegagalan atau umpan balik, sementara self-efficacy adalah "lapisan tindakan" yang menentukan apakah seseorang berani mencoba tugas spesifik di depan mereka. Siswa dengan growth mindset cenderung membangun self-efficacy yang lebih tahan banting — sekali gagal tidak langsung runtuh keyakinannya, karena ia melihat kegagalan sebagai bagian dari proses berkembang, bukan bukti final tentang batas kemampuannya.

Self-efficacy adalah keyakinan tentang tugas hari ini. Growth mindset adalah keyakinan tentang arah jangka panjang. Anak bisa punya self-efficacy tinggi untuk satu ujian besok, sekaligus fixed mindset soal apakah kemampuannya bisa terus bertambah.

Self-Efficacy Juga Tidak Universal

Di artikel sebelumnya, kami membahas temuan bahwa growth mindset ternyata tidak seragam di semua bidang — seseorang bisa growth mindset di olahraga tapi fixed mindset di matematika. Pola serupa berlaku juga untuk self-efficacy, bahkan sejak konsep ini pertama diperkenalkan: self-efficacy pada dasarnya bersifat spesifik-domain, bukan sifat kepribadian yang menyeluruh. Siswa yang sama bisa punya self-efficacy tinggi untuk matematika tapi rendah untuk berbicara di depan umum — dan itu dua hal yang independen, bukan cerminan dari satu "rasa percaya diri" yang tunggal.

Konsekuensinya penting bagi orang tua dan guru: menyimpulkan "anak ini kurang percaya diri" dari satu situasi (misalnya gugup presentasi) belum tentu berlaku untuk situasi lain (misalnya mengerjakan soal matematika sendirian). Perlu dilihat per konteks, bukan dipukul rata sebagai satu sifat kepribadian.

Baik self-efficacy maupun growth mindset sama-sama lebih mirip kumpulan keyakinan per-bidang, dibanding satu sifat kepribadian tunggal yang berlaku di mana-mana.

Implikasi Praktis: Pujian yang Tepat Sasaran

Salah satu studi paling terkenal yang menghubungkan kedua konsep ini secara praktis adalah eksperimen klasik Mueller dan Dweck (1998). Anak-anak yang dipuji atas kecerdasannya ("kamu pasti pintar") setelah berhasil mengerjakan soal, cenderung memilih tugas yang lebih mudah selanjutnya, dan performanya justru menurun saat menghadapi soal sulit. Anak-anak yang dipuji atas usahanya ("kamu pasti sudah berusaha keras") cenderung memilih tantangan yang lebih besar, dan performanya bertahan lebih baik saat menghadapi kesulitan.

Temuan ini menjembatani kedua konsep: pujian yang berfokus pada usaha menguatkan growth mindset (kemampuan bisa bertambah lewat kerja keras), sekaligus membangun self-efficacy lewat salah satu sumber terkuatnya — pengalaman keberhasilan yang benar-benar didapat lewat usaha sendiri, bukan sekadar diberi label "pintar" dari luar.

Kesimpulan

Self-efficacy dan growth mindset bukan sinonim, meski sering dipakai bergantian di percakapan sehari-hari. Self-efficacy adalah keyakinan spesifik tentang kapasitas menghadapi tugas tertentu saat ini; growth mindset adalah keyakinan lebih umum tentang apakah kemampuan bisa berkembang dari waktu ke waktu. Keduanya saling menguatkan, bukan saling menggantikan — dan keduanya sama-sama lebih bersifat spesifik-konteks daripada yang sering diasumsikan orang. Memahami perbedaan ini membantu orang tua dan guru memberi dukungan yang lebih tepat sasaran: kadang seorang anak butuh pengalaman keberhasilan kecil untuk membangun self-efficacy di satu tugas, kadang ia butuh diingatkan bahwa kemampuannya memang bisa terus bertambah.

Daftar Pustaka

Artikel ini disusun oleh Tim Logicus Academy berdasarkan tinjauan literatur psikologi pendidikan, dengan rujukan sebagai berikut:

  • Bandura, A. (1977). Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84(2), 191–215. https://doi.org/10.1037/0033-295X.84.2.191
  • Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman.
  • Dweck, C. S. (2002). Messages that motivate: How praise molds students' beliefs, motivation, and performance (in surprising ways). In J. Aronson (Ed.), Improving academic achievement (pp. 37–60). Academic Press.
  • Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.
  • Meta-analisis hubungan mindset, self-efficacy, dan self-esteem pada siswa dan guru (2025). Personality and Individual Differences. (daftar nama penulis lengkap, volume, dan halaman belum dapat diverifikasi Tim Logicus Academy)
  • Mueller, C. M., & Dweck, C. S. (1998). Praise for intelligence can undermine children's motivation and performance. Journal of Personality and Social Psychology, 75(1), 33–52. https://doi.org/10.1037/0022-3514.75.1.33
  • Xu, X., & Dieckmann, J. A. (2025). Differentiating mathematical mindset, growth mindset, and self-efficacy through intervention research: A neuroplasticity approach. Frontiers in Psychology, 16, Article 1598817. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1598817

Ditulis oleh Tim Logicus Academy

Kami menyusun materi metode berpikir dan pendampingan riset untuk siswa SD hingga mahasiswa, termasuk pembinaan kompetisi karya tulis ilmiah seperti LKTI dan OPSI.