Sejak Carol Dweck memperkenalkan istilah growth mindset lebih dari satu dekade lalu, gagasan ini menyebar jauh melampaui jurnal psikologi — masuk ke poster kelas, pelatihan guru, sampai buku parenting. Intinya sederhana dan menggoda: orang yang percaya kemampuannya bisa berkembang lewat usaha akan lebih tahan banting dan berprestasi lebih baik dibanding yang percaya kemampuan itu sudah "given" sejak lahir.

Masalahnya, semakin populer sebuah gagasan, semakin ia rentan disederhanakan berlebihan. Lima tahun terakhir, sejumlah psikolog justru mengambil langkah mundur dan bertanya: apakah bukti-buktinya sekuat yang selama ini diklaim?

Apa Itu Growth Mindset

Secara ringkas, teori ini membedakan dua keyakinan tentang kemampuan diri. Fixed mindset adalah keyakinan bahwa kecerdasan atau bakat adalah sifat tetap — kamu terlahir pintar atau tidak, titik. Growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan bisa berkembang lewat usaha, strategi, dan bimbingan yang tepat.

Studi-studi awal Dweck menunjukkan siswa dengan growth mindset cenderung lebih ulet menghadapi kegagalan, dan hasil-hasil inilah yang kemudian memicu gelombang besar program intervensi mindset di sekolah-sekolah seluruh dunia.

Kenapa Riset Terbaru Lebih Berhati-hati

Titik baliknya adalah dua meta-analisis besar yang terbit di jurnal Psychological Bulletin pada 2023. Yang pertama, oleh Burnette dan koleganya, mengumpulkan puluhan studi intervensi growth mindset dan menemukan efeknya jauh lebih kecil dari kesan yang beredar di publik — untuk prestasi akademik, ukuran efeknya tergolong kecil, dan untuk kesehatan mental tergolong kecil-menengah. Yang lebih penting, rentang hasilnya sangat lebar: sebagian studi menunjukkan efek positif, sebagian nyaris tidak menunjukkan efek sama sekali.

Efek growth mindset itu nyata secara statistik, tapi ukurannya jauh lebih kecil dan jauh lebih bervariasi dibanding kesan "ampuh untuk semua orang" yang sering beredar.

Masalah di Balik Studi-studi Populer

Meta-analisis kedua, oleh Macnamara dan Burgoyne, terbit di jurnal yang sama dan menggali lebih dalam ke kualitas studinya. Temuannya cukup mengejutkan: sebagian besar studi intervensi growth mindset mengandung faktor perancu yang tidak terkontrol dengan baik, sehingga sulit memastikan perubahan hasil belajar benar-benar berasal dari mindset, bukan faktor lain yang ikut berubah bersamaan.

Yang lebih menarik, penulis dengan kepentingan finansial dalam mempromosikan program mindset ternyata jauh lebih sering melaporkan hasil positif dibanding peneliti independen. Studi dengan kualitas metodologi lebih tinggi justru cenderung menunjukkan efek yang lebih kecil, bukan lebih besar. Pola ini adalah tanda klasik dari apa yang psikolog sebut publication bias — hasil positif dan mengejutkan lebih mudah diterbitkan dan disebarluaskan dibanding hasil negatif atau netral.

Psikolog Daphna Oyserman turut mengomentari fenomena ini: growth mindset sudah menjadi gagasan yang begitu akrab secara budaya, sehingga makalah yang mendukungnya lebih mudah diterima ketimbang makalah yang bersikap skeptis.

Yang Tetap Terbukti Kuat

Nuansa ini tidak berarti growth mindset "terbantahkan" sepenuhnya. Beberapa temuan tetap konsisten dan didukung data dalam skala besar:

Kaitan dengan grit (keuletan). Sebuah meta-analisis 2025 yang meninjau 66 studi dengan lebih dari 42.000 partisipan menemukan korelasi yang tergolong sedang hingga cukup kuat antara growth mindset dan grit — dan hubungan ini lebih kuat lagi pada konteks budaya kolektivistik, yang relevan dengan masyarakat Indonesia.

Relevansi khusus di pelajaran matematika. Sebuah meta-analisis skala sangat besar — hampir satu juta partisipan dari 79 negara — menemukan korelasi signifikan antara growth mindset dan capaian matematika, sekaligus dengan faktor non-kognitif seperti motivasi intrinsik dan kebiasaan belajar. Matematika, yang sering dianggap "bakat atau tidak," ternyata menjadi salah satu bidang yang paling terdampak oleh keyakinan siswa tentang kemampuan dirinya.

Konteks Menentukan Hasil

Riset terbaru juga menegaskan bahwa growth mindset bukan solusi satu ukuran untuk semua. Efeknya terbukti lebih kuat ketika intervensi menyasar kelompok yang memang berisiko mengalami hambatan motivasi — misalnya siswa dari latar belakang ekonomi kurang mampu, atau siswa yang menghadapi stereotip negatif tentang kemampuan mereka di bidang tertentu.

Fidelitas implementasi juga menentukan. Program yang dijalankan asal-asalan — sekadar poster motivasi atau ceramah singkat tanpa tindak lanjut — jauh lebih lemah efeknya dibanding program yang dirancang cermat dan dijalankan konsisten dari waktu ke waktu.

Growth mindset bukan mantra yang cukup diucapkan sekali. Ia baru berpengaruh nyata ketika didukung strategi belajar yang konkret dan konsisten — bukan sekadar kalimat penyemangat.

Ternyata, Mindset Guru Juga Berperan

Salah satu temuan paling relevan bagi dunia pendidikan datang dari meta-analisis 2024 yang meninjau 50 studi dengan hampir 20.000 partisipan — tapi bukan meneliti mindset siswa, melainkan mindset guru. Hasilnya: keyakinan guru tentang kemampuan siswa yang bisa berkembang berkaitan dengan praktik mengajar yang lebih adaptif, dan pada akhirnya dengan capaian belajar siswa — meski, sekali lagi, ukuran efeknya tergolong kecil.

Temuan ini masuk akal secara praktis: seorang guru dengan fixed mindset cenderung memberi label cepat pada siswa ("dia memang lemah matematika") dan tanpa sadar mengurangi tantangan atau dukungan yang diberikan. Guru dengan growth mindset lebih cenderung menyesuaikan metode ketika satu pendekatan tidak berhasil, alih-alih menyimpulkan siswanya "memang tidak berbakat".

Apa Artinya untuk Cara Kita Mendidik

Menggabungkan semua temuan ini, ada tiga pelajaran praktis yang bisa diambil orang tua dan pendidik:

Pertama, berhenti memperlakukan growth mindset sebagai kalimat afirmasi kosong. Mengatakan "kamu pasti bisa" tanpa mengubah apa pun dalam cara belajar tidak terbukti banyak membantu — riset justru menunjukkan intervensi yang hanya berupa pesan motivasi cenderung punya efek paling lemah.

Kedua, pasangkan keyakinan dengan strategi. Growth mindset paling berpengaruh ketika berjalan beriringan dengan metode belajar yang konkret — bukan cuma percaya bisa berkembang, tapi juga tahu bagaimana caranya berkembang lewat langkah-langkah yang jelas dan terukur.

Ketiga, perhatikan mindset orang dewasa di sekitar anak — bukan cuma mindset anak itu sendiri. Cara guru dan orang tua merespons kegagalan anak ikut membentuk keyakinan anak tentang kemampuannya sendiri, mungkin sama besar pengaruhnya dengan apa yang diyakini anak itu sendiri.

Kesimpulan

Growth mindset tidak "terbantahkan" oleh riset lima tahun terakhir — tapi citranya sebagai solusi ajaib yang cukup diucapkan untuk mengubah hasil belajar sudah selayaknya dikoreksi. Efeknya nyata namun sedang, sangat bergantung pada konteks dan kualitas implementasi, dan baru benar-benar bekerja ketika dipasangkan dengan strategi belajar yang konkret. Ini pula sebabnya di Logicus Academy kami tidak berhenti di kalimat "percaya kamu bisa" — keyakinan itu perlu dipasangkan dengan metode berpikir yang jelas, supaya usaha yang dilakukan siswa benar-benar mengarah ke kemajuan yang bisa diukur.

Daftar Pustaka

Artikel ini disusun oleh Tim Logicus Academy berdasarkan tinjauan sejumlah meta-analisis dan artikel jurnal psikologi tahun 2023–2025, dengan rujukan sebagai berikut:

  • Bardach, L., Bostwick, K. C. P., Fütterer, T., Kopatz, M., Hobbi, D. M., Klassen, R. M., & Pietschnig, J. (2024). A meta-analysis on teachers' growth mindset. Educational Psychology Review, 36(3), Article 84. https://doi.org/10.1007/s10648-024-09925-7
  • Burnette, J. L., Billingsley, J., Banks, G. C., Knouse, L. E., Hoyt, C. L., Pollack, J. M., & Simon, S. (2023). A systematic review and meta-analysis of growth mindset interventions: For whom, how, and why might such interventions work? Psychological Bulletin, 149(3–4), 174–205. https://doi.org/10.1037/bul0000368
  • Lam, K. K. L., & Zhou, M. (2025). A meta-analysis of the relationship between growth mindset and grit. Acta Psychologica, 255, Article 104872. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2025.104872
  • Macnamara, B. N., & Burgoyne, A. P. (2023). Do growth mindset interventions impact students' academic achievement? A systematic review and meta-analysis with recommendations for best practices. Psychological Bulletin, 149(3–4), 133–173. https://doi.org/10.1037/bul0000352
  • Macnamara, B. N., & Burgoyne, A. P. (2023). A spotlight on bias in the growth mindset intervention literature: A reply to commentaries that contextualize the discussion (Oyserman, 2023; Yan & Schuetze, 2023) and illustrate the conclusion (Tipton et al., 2023). Psychological Bulletin, 149(3–4), 242–258. https://doi.org/10.1037/bul0000394
  • Meta-analisis growth mindset dalam pendidikan matematika (946.473 subjek, 79 negara). Current Psychology. Advance online publication. https://doi.org/10.1007/s12144-026-09524-5 (nama penulis lengkap belum dapat diverifikasi Tim Logicus Academy)
  • Tipton, E., Bryan, C., Murray, J., McDaniel, M. A., Schneider, B., & Yeager, D. S. (2023). Why meta-analyses of growth mindset and other interventions should follow best practices for examining heterogeneity: Commentary on Macnamara and Burgoyne (2023) and Burnette et al. (2023). Psychological Bulletin, 149(3–4), 229–241. https://doi.org/10.1037/bul0000384

Ditulis oleh Tim Logicus Academy

Kami menyusun materi metode berpikir dan pendampingan riset untuk siswa SD hingga mahasiswa, termasuk pembinaan kompetisi karya tulis ilmiah seperti LKTI dan OPSI.