Di artikel sebelumnya, kami membahas bagaimana riset lima tahun terakhir mengoreksi klaim populer soal growth mindset — efeknya nyata, tapi jauh lebih kecil dan lebih bergantung konteks dari yang sering digembar-gemborkan. Tapi ada satu hal yang sering luput dari diskusi itu: growth mindset hanyalah satu dari beberapa kerangka mindset yang diteliti psikolog selama beberapa dekade terakhir.

Memahami kerangka-kerangka lain ini penting, karena masing-masing menjelaskan sisi berbeda dari cara seseorang mendekati belajar dan tantangan — dan sebagian di antaranya punya bukti yang jauh lebih konsisten dibanding growth mindset itu sendiri.

Growth vs Fixed: Titik Awal, Bukan Titik Akhir

Sebagai penyegar singkat: kerangka ini membedakan keyakinan bahwa kemampuan adalah sifat tetap (fixed mindset) versus keyakinan bahwa kemampuan bisa berkembang lewat usaha (growth mindset). Kerangka ini paling populer, tapi juga paling banyak disederhanakan berlebihan dalam penerapannya di sekolah dan rumah.

Yang sering tidak disadari: growth-fixed sebetulnya berakar dari kerangka psikologi yang lebih tua dan lebih luas, yaitu teori orientasi tujuan (goal orientation theory) — dan di situlah kerangka mindset berikutnya dimulai.

Mastery vs Performance: Untuk Apa Sebenarnya Kamu Belajar?

Jauh sebelum istilah "growth mindset" populer, psikolog Carol Dweck bersama Elaine Elliott sudah meneliti perbedaan antara dua orientasi tujuan belajar. Mastery goal (kadang disebut learning goal) adalah dorongan untuk belajar demi memahami dan menguasai sesuatu. Performance goal adalah dorongan untuk belajar demi dinilai baik oleh orang lain — mengungguli teman sekelas, atau sekadar terlihat kompeten.

Bedanya dengan growth-fixed cukup halus tapi penting: growth-fixed adalah soal apa yang kamu percaya tentang kemampuanmu, sedangkan mastery-performance adalah soal untuk apa sebenarnya kamu berusaha. Dua siswa yang sama-sama percaya kemampuannya bisa berkembang (growth mindset) tetap bisa punya alasan belajar yang berbeda — satu karena penasaran ingin paham, satu lagi karena ingin terlihat lebih pintar dari teman sebangku.

Riset konsisten menunjukkan siswa dengan mastery goal lebih tahan menghadapi kegagalan dan memilih strategi belajar yang lebih mendalam, dibanding siswa dengan performance goal yang cenderung menghindari tantangan demi menjaga citra.

Ketika Dua Sumbu Digabung: Model 2×2

Psikolog Andrew Elliot kemudian menambahkan satu sumbu lagi ke kerangka mastery-performance: approach (mengejar hal positif) versus avoidance (menghindari hal negatif). Hasilnya adalah model 2×2 yang membelah orientasi tujuan menjadi empat kombinasi:

Mastery-approach — belajar demi benar-benar memahami dan menguasai sesuatu. Mastery-avoidance — belajar karena takut tidak cukup paham atau takut "menurun" dari kemampuan sebelumnya. Performance-approach — belajar demi terlihat unggul dibanding orang lain. Performance-avoidance — belajar semata demi menghindari rasa malu karena terlihat tidak mampu.

Dari keempatnya, mastery-approach paling konsisten dikaitkan dengan hasil belajar yang baik dan emosi positif seperti rasa bangga dan senang. Performance-avoidance paling konsisten dikaitkan dengan kecemasan dan performa yang lebih buruk saat menghadapi tekanan.

Mindset Ternyata Tidak Seragam di Setiap Bidang

Ini mungkin temuan paling mengejutkan dari riset-riset terbaru: banyak orang berasumsi mindset adalah sifat tunggal yang menetap pada diri seseorang — kalau growth mindset, ya growth mindset di semua hal. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Sebuah studi terhadap lebih dari seribu siswa sekolah menengah di Finlandia menemukan bahwa mindset siswa terhadap kecerdasan, bakat, dan kreativitas tidak selalu konsisten satu sama lain. Sebagian besar siswa memang menunjukkan pola "umum" yang konsisten di berbagai bidang, tapi ada juga kelompok siswa dengan pola "berlawanan" — misalnya growth mindset untuk kecerdasan dan kreativitas, tapi fixed mindset untuk bakat. Menariknya, kelompok dengan pola berlawanan ini justru unggul di matematika dan bahasa asing dibanding kelompok dengan growth mindset penuh di semua bidang.

Temuan serupa muncul dari studi internasional yang membandingkan growth mindset di ranah akademik dan ranah kreatif — keduanya berhubungan dengan capaian belajar, tapi tidak selalu bergerak beriringan pada individu yang sama.

Seorang anak bisa punya growth mindset penuh soal olahraga — yakin bisa jadi jago basket lewat latihan — tapi diam-diam fixed mindset soal matematika, merasa "memang bukan tipe orang matematika". Keduanya bisa hidup berdampingan dalam satu kepala yang sama.

Promotion vs Prevention: Dua Cara Mengejar Tujuan

Kerangka lain yang jarang dibahas di luar lingkaran psikologi adalah regulatory focus theory, dikembangkan psikolog E. Tory Higgins. Kerangka ini membedakan dua cara orang mengatur diri saat mengejar tujuan.

Promotion focus berorientasi pada cita-cita, harapan, dan pencapaian — menggunakan strategi yang "berani mencoba", merasa gembira saat berhasil dan kecewa saat gagal. Prevention focus berorientasi pada kewajiban, tanggung jawab, dan rasa aman — menggunakan strategi yang lebih hati-hati dan waspada, merasa tenang saat berhasil dan cemas saat gagal.

Bedanya dengan mastery-performance: regulatory focus bukan soal apa tujuan belajarnya, tapi soal gaya mengejar tujuan itu sendiri. Seorang siswa dengan prevention focus bisa saja punya mastery goal yang kuat (benar-benar ingin memahami materi), tapi mengejarnya dengan cara berhati-hati dan menghindari risiko — misalnya enggan mencoba soal yang lebih sulit karena takut salah, bukan karena tidak ingin belajar lebih dalam.

Kenapa Peta Ini Penting untuk Orang Tua & Guru

Menggabungkan keempat kerangka ini memberi gambaran yang jauh lebih presisi dibanding sekadar bertanya "anak ini growth mindset atau fixed mindset?" Tiga hal praktis yang bisa diambil:

Pertama, perhatikan alasan di balik usaha anak, bukan cuma keyakinannya. Anak yang rajin belajar demi nilai bagus (performance goal) butuh pendekatan berbeda dari anak yang rajin belajar karena penasaran (mastery goal), meski keduanya sama-sama terlihat "rajin" dari luar.

Kedua, jangan berasumsi mindset anak seragam di semua mata pelajaran. Anak yang percaya diri di pelajaran bahasa tapi minder di matematika bukan sedang "tidak konsisten" — itu justru pola yang normal dan sudah terkonfirmasi riset. Pendekatan penguatan mindset mungkin perlu disesuaikan per mata pelajaran, bukan dipukul rata.

Ketiga, sadari gaya seorang anak mengejar tujuan. Anak dengan prevention focus yang berhati-hati bukan berarti kurang termotivasi — ia mungkin perlu didorong dengan cara yang berbeda dari anak yang secara alami berani mengambil risiko.

Kesimpulan

"Mindset" bukan satu spektrum tunggal dari fixed ke growth. Ia adalah kumpulan beberapa dimensi berbeda — keyakinan tentang kemampuan, alasan di balik usaha, gaya mengejar tujuan, dan semuanya bisa berbeda-beda tergantung bidang yang dihadapi. Memahami peta yang lebih lengkap ini membantu orang tua dan guru merespons anak dengan lebih tepat sasaran, alih-alih menempelkan satu label sederhana ke seluruh cara belajar seorang anak.

Daftar Pustaka

  • Dweck, C. S., & Leggett, E. L. (1988). A social-cognitive approach to motivation and personality. Psychological Review, 95(2), 256–273. https://doi.org/10.1037/0033-295X.95.2.256
  • Elliot, A. J., & McGregor, H. A. (2001). A 2×2 achievement goal framework. Journal of Personality and Social Psychology, 80(3), 501–519. https://doi.org/10.1037/0022-3514.80.3.501
  • Elliott, E. S., & Dweck, C. S. (1988). Goals: An approach to motivation and achievement. Journal of Personality and Social Psychology, 54(1), 5–12. https://doi.org/10.1037/0022-3514.54.1.5
  • Han, S. W., & Borgonovi, F. (2026). Growth mindsets and achievement: Evidence across academic and creative domains from an international perspective. Journal of Adolescence, 98(4), 1064–1074. https://doi.org/10.1002/jad.70117
  • Higgins, E. T. (1997). Beyond pleasure and pain. American Psychologist, 52(12), 1280–1300. https://doi.org/10.1037/0003-066X.52.12.1280
  • Higgins, E. T. (1998). Promotion and prevention: Regulatory focus as a motivational principle. In M. P. Zanna (Ed.), Advances in experimental social psychology (Vol. 30, pp. 1–46). Academic Press.
  • Laurell, J., Puusepp, I., Hakkarainen, K., & Tirri, K. (2025). Students' cross-domain mindset profiles and academic achievement in Finnish lower-secondary education. Frontiers in Psychology, 16, Article 1514879. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1514879

Ditulis oleh Tim Logicus Academy

Kami menyusun materi metode berpikir dan pendampingan riset untuk siswa SD hingga mahasiswa, termasuk pembinaan kompetisi karya tulis ilmiah seperti LKTI dan OPSI.